LOMBOK TIMUR – Penyebaran kasus HIV/AIDS di Lombok Timur (Lotim), khususnya di wilayah Kota Selong, kini mulai menyasar usia produktif, termasuk remaja dan pelajar. Fenomena ini disebabkan oleh pergaulan bebas yang difasilitasi melalui aplikasi daring atau online

Kepala Puskesmas Selong, Baiq Lilik Setiawati, mengungkapkan bahwa pada triwulan pertama tahun 2026, pihaknya telah mencatat adanya satu temuan kasus baru. Padahal, target optimal yang diharapkan adalah menekan angka penularan hingga nol kasus di tahun ini.

"Harapan kita sebenarnya tahun ini nol, tapi ternyata triwulan satu ini sudah ada angka kasus baru . Jadi target nol itu sudah pecah, karena tahun 2025 ada dua orang," ujar Lilik

Berdasarkan data saat ini terdapat 16 orang penderita HIV yang berada dalam pembinaan Puskesmas Selong. Meskipun tidak semuanya merupakan warga asli Selong, mereka rutin berkoordinasi dan berobat ke puskesmas tersebut karena merasa nyaman dengan pelayanan dan kerahasiaan yang terjaga.

Lebih lanjut Lilik menyoroti pergeseran pola penularan yang kini menyentuh usia sekolah. Jika dulu penularan lebih identik dengan riwayat bekerja di luar kota, kini pola tersebut berganti melalui interaksi di dunia maya yang mengarah pada prostitusi daring.

"Sekarang penyebarannya sudah mulai beranjak ke usia-usia muda. Informasi yang kita dapatkan dari penderita, pemicunya dari online. Jadi pemesanan-pemesanan itu lewat online," ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa usia SMA saat ini sangat rentan karena gaya hidup yang cenderung liberal. Bahkan, indikasi awal penderita biasanya baru diketahui setelah mereka mengeluhkan gejala Infeksi Saluran Kemih (ISK).


Menanggapi persoalan ini pihak nya pun kata dia terus memperkuat langkah preventif melalui sosialisasi ke sekolah-sekolah. Edukasi diberikan secara spesifik agar siswa memahami batasan tubuh dan risiko dari perilaku seks bebas. Selain HIV, pihaknya juga mencatat tingginya angka penderita Sifilis . Berbeda dengan HIV, penderita Sifilis masih memiliki peluang kesembuhan total jika menjalani pengobatan rutin.

Untuk menjangkau kelompok berisiko, Puskesmas Selong juga rutin menggelar pemeriksaan kesehatan di tempat umum. "Kami punya program sekali sebulan pemeriksaan di taman kota Selong. Kami turun untuk menyasar itu (kelompok berisiko), termasuk pemeriksaan infeksi lainnya," tambah Lilik.

Terkait penanganan 16 orang yang masuk dalam daftar kumulatif, Lilik menegaskan bahwa pihaknya tidak melakukan karantina layaknya pasien COVID-19, melainkan melakukan pembinaan secara proaktif guna memutus rantai penularan. Karenanya ia meminta para orang tua agar lebih memperketat pengawasan terhadap penggunaan perangkat digital anak-anak mereka guna menghindari terjerumus dalam pergaulan bebas berbasis aplikasi


"Penanganannya tidak ada karantina karena ini masalah privasi, tidak boleh dipublish. Alhamdulillah mereka proaktif, sehingga kita terus berikan edukasi agar tidak menyebarkan lagi ke orang lain. Kita juga minta mereka berterus terang kepada pasangan masing-masing," tutupnya. (glk)