LOMBOK TIMUR  – Dinas Kesehatan (Dikes) (Lotim) Lombok Timur mencatat terjadinya peningkatan kasus HIV di awal tahun 2026. Hingga akhir April, tercatat sudah ada 9 kasus baru yang terkonfirmasi positif HIV . Jumlah tersebut memang masih rendah dibandingkan dibandingkan dengan tahun 2025 laku dengan total kasus mencapai 75 orang.




Sahid Ramdan



Kabid Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Kesehatan Lingkungan (P3KL) Dikes Lombok Timur Sahid Ramdan mengungkapkan bahwa temuan kasus baru ini didominasi oleh kelompok usia produktif, yakni antara 15 hingga 30 tahun.

"Tahun 2025 data kita berada di angka 75 kasus. Memasuki tahun 2026 ini, sampai akhir April saja sudah ada penambahan 9 kasus baru yang terkonfirmasi positif," ujar Sahid

Salah satu hal yang menjadi atensi mereke terkait dengan HIV ini terang dia adalah meningkatnya risiko penularan di kalangan kelompok rentan, khususnya komunitas Lelaki Suka Lelaki (LSL). Sahid menyebut kelompok ini mengalami perkembangan yang cukup signifikan di Lombok Timur dan menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan screening rutin.

"Kelompok LSL ini perkembangannya cukup signifikan di Lombok Timur. Ini betul-betul kita wanti-wanti karena komunitas tersebut sangat berisiko terkait penyebaran. Namun, tantangannya mereka sering menyembunyikan komunitasnya, sehingga petugas kami harus jeli melihat sinyal-sinyal keberadaan mereka untuk diajak pemeriksaan," jelasnya.


Selain faktor komunitas imbuh dia prostitusi daring atau Open BO juga dicurigai menjadi salah satu penyebab penyebaran virus, termasuk juga karena dibawa dari luar daerah. "Ada kasus yang berawal dari laporan penderita yang terpapar lewat transaksi online. Ini bisa saja orang luar masuk ke sini atau sebaliknya," tambahnya.

Untuk itu kata dia pihaknua terus inten melakukan deteksi dini kasus HIV yang dilakukan melalui tiga cara. Yaitu screening kelompok kunci di lokasi berisiko,pemeriksaan wajib bagi ibu hamil untuk mencegah penularan ke bayi, dan emeriksaan wajib bagi penderita TB Paru

" Penanganan HIV seperti memperlambat laju kereta api. Meskipun virus ini sulit disembuhkan sepenuhnya, pemberian Antiretroviral (ARV) secara rutin sangat penting untuk memperpanjang daya tahan tubuh penderita " kata dia.

Karenanya ia berharap dari 9 kasus baru ini semuanya harus mendapatkan antivirus. Hal itu sebagai upaya untuk perlambat lajunya sehingga tidak sampai terjangkit AIDs. Tidak hanya itu Sahid juga menyatakan meski pun obat sudah disiapkan namun yang menjadi tantangan mereka adalah ketidakkoperatifan penderita dalam mengonsumsi ARV. Banyak penderita yang merasa jenuh atau justru pindah ke luar daerah tanpa melanjutkan pengobatan, yang justru berisiko menularkan virus di tempat baru.

" Inilah peran kita semua untuk membantu menghapus stigma negatif terhadap penderita HIV. Tidak semua penderita terpapar karena perilaku menyimpang, melainkan bisa melalui jarum suntik yang tidak sengaja atau penularan ibu ke anak " tandasnya. (Glk)