LOMBOK TIMUR – Sekitar 74 hekter lebih tanam jagung petani di berbagai wilayah Selatan Lombok Timur (Lotim) terutama Kecamatan Jerowaru telah terendam banjir sejak awal Februari 2026. Kondisi tersebut menyebabkan para petani terancam gagal panen dan mengalami kerugian miliaran rupiah.
![]() |
|
Kadia Pertanian Lotim, Lalu Pathul Kasturi, mengungkapkan bahwa dari total lahan terdampak, sekitar 15 hektare di antaranya sudah membusuk akibat terlalu lama tergenang air.
"Yang rusak hanya lahan jagung saja, kalau padi tidak ada di daerah Selatan. Totalnya sekitar 74 hektare. Dari jumlah itu ada sekitar 15 hektare yang sudah busuk karena terlalu lama tergenang banjir," terang Kasturi.
Yang memprihatinkan kata dia banjir datang saat tanaman jagung belum memasuki masa panen. Bahkan sebagian besar jagung belum sempat mengeluarkan buah saat diterjang banjir. Rata-rata lahan yang terendam merupakan lahan kering yang biasa ditanami jagung. Pihaknya pun telah berkoordinasi dengan BPBD untuk melakukan penyedotan air dan membuangnya ke laut.
" Kerugian yang dialami para petani cukup besar " imbuhnya.
Jika harga jagung saat ini Rp. 5.500 per kilogram dan produktivitas rata-rata 6-7 ton per hektare, kerugian total bisa mencapai miliaran "Harga jagung saat ini Rp5.500 per kilogram, dan rata-rata produksi kita per hektare itu 6 sampai 7 ton, itu sudah berapa kerugian kita. Tetapi ada beberapa memang berhasil kita selamatkan," benernya.
Untuk itu lanjut Kasturi pihak nya pun menawarkan bantuan bibit jagung kepada petani untuk kembali menanam. Namun mayoritas petani menolak dan memilih beralih menanam tembakau. Tidak hanya Selatan Lotim tanaman padi di Kecamatan Sambelia juga sempat terendam. Namun kerusakan tidak begitu parah seperti di wilayah Selatan Lotim. petani masih bisa bernapas lega. .
"Kalau padi itu dia terendam saja, tapi begitu hujan selesai airnya keluar tanaman bisa selamat. Tapi kalau misalnya terdampak kita siap berikan bibit untuk mereka tanam lagi," tandas Kasturi.
Sementara itu salah seorang petani di Wilayah Jerowaru Suandi mengatakan bahwa di wilayahnya saja lahan jagung yang terendam mencapai 48 hektare. Petani tidak hanya menanam jagung, tetapi juga menerapkan sistem tumpang sari dengan tanaman cabai dan tomat yang ikut rusak terendam.
"Di tempat saya saja lahan jagung yang terendam sekitar 48 hektare. Belum di tempat lain. Karena kan penanaman menggunakan tumpang sari. Di sela-sela jagung ada cabai, tomat dan lainnya," tutupnya. (glk)

Post a Comment